Yaa walaupun ngepost tentang materi ini telat, tapi masih inget pengalaman dan materi apa yg dibahas dalam kuliah nge-mall ini.
Jadi, untuk materi Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan itu saya dan febi memberikan materi ini di mall Gandaria City. Inget banget pas dapetin tugas buat kesana banyak pro kontranya loh. Ada yang nganggep "yaudahlah yaa toh kita kuliah cari suasana lain" , ada juga yang "ngapain sih jauh-jauh sampe jakarta selatan kita mesti nge-mall, emang jakpus ga ada mall ! " pokoknya banyak deh tanggepan postif dan negatif buat belajar disana. Untuk saya pribadi pertama tau kita belajar disana sempet kesel karena masalah jarak mallnya aja tapi kalo untuk kuliah langsung praktik lapangannya assik-assik aja. Malahaan bisa main-main dan dapet pengalaman dari pembicara juga yang terkait dengan Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan. Setelah mendapat kedua materi tersebut semua kelompok mendapat tugas untuk mengobservasi ke toko branded dari pakaian,sepatu,mainan dan lain-lain. Apa sih yang kita obervasi dari toko-toko tersebut? Pastinya tentang si konsumen dan si penjual terkait dengan materi Perilaku Konsumen serta mencari tahu bagaimana seorang gaya kepemimpinan di suatu perusahaan (pembicara perusahaan susu) yang terkait dengan materi tentang Kepemimpinan. Mau tau kan materinya gimana? Nah dibawah ini saya akan membahas mengenai Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan.
Jadi, untuk materi Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan itu saya dan febi memberikan materi ini di mall Gandaria City. Inget banget pas dapetin tugas buat kesana banyak pro kontranya loh. Ada yang nganggep "yaudahlah yaa toh kita kuliah cari suasana lain" , ada juga yang "ngapain sih jauh-jauh sampe jakarta selatan kita mesti nge-mall, emang jakpus ga ada mall ! " pokoknya banyak deh tanggepan postif dan negatif buat belajar disana. Untuk saya pribadi pertama tau kita belajar disana sempet kesel karena masalah jarak mallnya aja tapi kalo untuk kuliah langsung praktik lapangannya assik-assik aja. Malahaan bisa main-main dan dapet pengalaman dari pembicara juga yang terkait dengan Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan. Setelah mendapat kedua materi tersebut semua kelompok mendapat tugas untuk mengobservasi ke toko branded dari pakaian,sepatu,mainan dan lain-lain. Apa sih yang kita obervasi dari toko-toko tersebut? Pastinya tentang si konsumen dan si penjual terkait dengan materi Perilaku Konsumen serta mencari tahu bagaimana seorang gaya kepemimpinan di suatu perusahaan (pembicara perusahaan susu) yang terkait dengan materi tentang Kepemimpinan. Mau tau kan materinya gimana? Nah dibawah ini saya akan membahas mengenai Perilaku Konsumen dan Kepemimpinan.
PERILAKU KONSUMEN
Apa sih perilaku konsumen itu?
Perilaku konsumen adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku yang
ditujukkan oleh konsumen mulai dari mencari, membeli, menggunakan,
mengevaluasi, hingga membuang produk atau jasa yang diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan mereka.
Berawal dari konsep pemasaran pada dunia bisnis pada tahun 1950-an, dimana terdapat tiga pendekatan marketing consept saat itu, yaitu :
Berawal dari konsep pemasaran pada dunia bisnis pada tahun 1950-an, dimana terdapat tiga pendekatan marketing consept saat itu, yaitu :
1) Production concept
Dalam pendekatan ini menjelaskan bahwa konsumen hanya berminat dengan produk yang sudah tersedia dan harganya murah/terjangkau. Misalnya ketika kita sedang berbelanja disebuah toko sepatu, kita melihat beberapa model sepatu. kita sebagai konsumen akan membeli sepatu ditoko tersebut sesuai dengan model dan ukuran yang tersedia serta dengan harga yang terjangkau.
2) Product concept
Asumsi dalam pendekatan ini adalah konsumen hanya mau membeli produk yang menawarkan kualitas terbaik, performa terbaik dan fitur terlengkap.
Sudut
pandang
ini
mendorong
perusahaan
untuk
meningkatkan
kualitas
produk,
menambahkan
fitur
(baru)
dalam
produk,
tanpa
perlu
mengetahui
lebih
dulu
konsumen
butuh
fitur-fitur
itu
atau
tidak. Misalnya, suatu perusahaan yang memproduksi smartphone yang setiap tahunnya mengeluarkan versi terbaru. Dalam setiap versinya selalu menambahkan aplikasi-aplikasi menarik dengan harapan konsumen akan membeli produk smartphonenya tersebut tanpa memperhatikan aplikasi yang mereka tambahkan memiliki kebutuhan bagi konsumen.
3) Selling concept
Pendekatan ini berasumsi
bahwa
pelanggan
tidak
mau
membeli
barang,
kecuali
dibujuk
untuk
membeli. Sering kali kita melihat disetiap pusat perbelanjaan pasti menemukan SPG/SPB yang menawarkan sebuah barang/produk. Tak jarang bagi mereka sampai mengejar para pengunjung pusat perbelanjaan tersebut. Dengan harapan produk yang mereka tawarkan bisa dibeli. Nah, dalam pendekatan inilah konsumen akan membeli apabila SPG/SPB bisa membujuk konsumen tersebut dengan baik. Kelemahan dalam pendekatan ini adalah tingkat ketidakpuasan terhadap barang yang ditawarkan, apabila suatu saat barang tersebut rusak pelanggan tidak akan kembali untuk membeli barang yang sama. Perusahaan yang memproduksipun dalam pendekatan ini tidak memikirkan kualitasnya.
MARKETING CONCEPT
Marketing concept adalah suatu usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan
untuk mencari
tahu
kebutuhan apa yang menjadi prioritas atau keinginan
konsumen, lalu perusahaan tersebut memproduksi barang/jasanya. Dalam penerapannya penjual akan membuat
produk
yang laku dipasaran dibandingkan menjual
apa
yang sudah
dibuat.
Perbedaan
selling concept dan marketing concept yaitu Selling concept fokus
pada
kebutuhan
penjual sedangkan Marketing concept fokus
pada
kebutuhan
konsumen.
Untuk
menerapkan
marketing concept, perusahaan harus
mau melakukan
riset mendalam
akan
kebutuhan
konsumen.
Karena
kebutuhan
dan
prioritas
setiap
konsumen
berbeda-beda. Beberapa strategic tools untuk
menerapkan
marketing concept :
market segmentation,
targetting, positioning,
dan
marketing mix.
Market segmentation adalah
proses membagi
pasar ke dalam
kategori/
subset dimana
konsumen
memiliki kesamaan
kebutuhan/
karakteristik. Dengan metode berdasarkan geografis, demografis, perilaku dan psikogeografis.
Market targeting adalah pemilihan
satu
atau
lebih
segmen
pasar
yang akan
dikejar/
ditargetkan
perusahaan. Dalam hal ini perusahaan menargetkan segmen pasar yang seperti apa yang dapat membeli produknya.
Positioning adalah proses mengembangkan
gambaran
tertentu
dari
sebuah
produk
atau jasa
ke
dalam
benak
konsumen,
dimana
gambaran
produk
yang dibentuk
sebaiknya
memiliki
perbedaan/
keunggulan
dibandingkan
dengan
produk
competitor. Postitioning yang efektif adalah yang menggunakan prinsip yaitu bisa mengkomunikasikan
keunggulan
fungsi
produk,
BUKAN fitur
produk
(communication benefits) dan memiliki
slogan (unique selling proposition
Marketing Mix adalah seperangkat
alat
pemasaran
yang digunakan
perusahaan
untuk
mencapai
tujuan
pemasaran
dalam
memenuhi
target pasarnya. Mengapa dikatakan marketing mix karena banyak faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut antara lain ; price, place, product, promotion, processing, physical environment, and people.
Sekarang kita akan membahas tahapan apa saja yang terjadi ketika kita membeli suatu barang ? ada empat proses yaitu :
1) Tahap pertama yaitu pengenalan masalah. Dalam tahap ini kita mengenali permasalahan akan kebutuhan terhadap suatu barang. Apakah kita membutuhkan barang ini atau tidak?
2) Tahap kedua yaitu pencarian informasi. Dalam tahap ini kita yang tergugah akan kebutuhan suatu barang, kita akan mencari segala informasi mengenai apa saja kelemahan/kelebihan, harga, fitur, dll. Hal ini menjadi bahan pertimbangan kita untuk membeli atau tidak.
3) Tahap yang ketiga yaitu evaluasi alternatif. Dalam tahap ini konsumen
akan
memproses
informasi
merek
dan
membuat
penilaian
akhir.
Mereka
akan
memberikan
perhatian
pada
atribut
yang memberi
manfaat
yang
dicari.
4) Tahap yang terakhir yaitu keputusan pembelian. Dalam tahap ini konsumen
membentuk
referensi
atas
merek-merek
dalam
kumpulan
pilihan.
Konsumen
mungkin
juga
membentuk
niat
untuk
membeli
produk
yang paling disukai,
termasuk
menilai
resiko dari
pembelian.
Kita telah selesai membahas materi mengenai Perilaku Konsumen. Selanjutnya kita akan membahas materi yang kedua mengenai Kepemimpinan.
Dalam lingkup perusahaan atau organisasi, istilah memimpin dan manajemen dianggap memiliki tujuan yang sama. Padahal keduanya itu berbeda. Apasih perbedaanya? Apakah seorang pemimpin dalam organisasi adalah manager dan seorang manager itu seorang pemimpin?
Naah, sebenernya kedua istilah tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam suatu perusahaan. Seseorang yang menjadi manajer belum tentu dia seorang pemimpin dan seorang pemimpin belum tentu seorang manager. Berikut ini penjelasannya :
Memimpin --> Kemampuan seseorang dalam mempengaruhi anggota kelompok untuk mencapai tujuan.Tugasnya adalah mengarahkan anggota mengembangkan visi, mengkomunikasikan ide, menginspirasi dan segala hal yang dilakukan untuk merubah.
Manajemen --> memiliki tugas untuk memastikan
urusan
dan
tugas
terlaksana
dengan
baik
melalui
penyusunan
rencana,
membuat
struktur
organisasi,
memonitor
pelaksanan
rencana,
dsb
Dalam organisasi kita membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki karakteristik kepemimpinan yang kuat dan manajerial yang efektif. Mengapa? Karena keberhasilan sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya. Jabatan pemimpin disuatu organisasi seperti , direktur, manajer, sepervisor, group leader dan mentor.
Teori Dasar Kepemimpinan
1. TRAIT THEORY
Teori
ini
mempelajari
dan
berusaha
mengenali
trait yang membedakan
karakteristik pemimpin
(leader) dengan
bukan
pemimpin
(non-leader). Seorang pemimpin itu dilahirkan bukan karena seseorang yang dibentuk.
Caranya untuk mengetahui pemimpin sesuai dengan teori ini adalah dengan cara
mengidentifikasi
trait pemimpin-pemimpin
yang ada di dunia
dan
CEO yang berpengaruh seperti, Margaret Thatcher, Nelson Mandela, Cofounder APPLE, American Express chairman, dsb. Namun teori tidak dapat menjelaskan kepemimpinan itu seperti apa.
2. BEHAVIORAL THEORY
Teori
yang menjelaskan
bahwa
perilaku
tertentu
pada
seseorang
membedakan
seorang pemimpin
(leader) dan
bukan
pemimpin
(non leader). Seorang pemimpin menurut teori ini adalah seseorang yang biasa bisa menjadi seorang pemimpin dengan cara membentuk dan melatih orang tersebut untuk menjadi pemimpin. Jadi, teori ini berbanding terbalik dengan trait theory.
3. CONTINGENCY THEORY
Teori ini beranggapan bahwa tidak ada seorang pemimpin dapat memiliki gaya kepemimpinan diberbagai situasi secara efektif karena kemampuan dalam memimpin itu tergantung (contingency) diberbagai faktor situasional. Faktor situasional yang mempengaruhi antara lain preferensi gaya kepemimpinan, kemampuan anggota dan perilaku anggota, hubungan pemimpin dengan anggota, struktur tugas dan kekuatan posisi pemimpin.
a. FIEDLER CONTINGENCY MODEL (FCM)
Keefektifan suatu kelompok tergatung besarnya kontrol pemimpin yang diperolah dari kecocokan gaya memimpin dengan aspek situasi. Gaya kepemimpinan menurut teori ini dapat diperoleh dengan cara kuesioner least preferred coworker (lpc) yaitu membagi gaya kepemimpinan menjadi dua yaitu task oriented dan relationship oriented. Dari aspek situasional gaya kepemimpinan dapat dilihat dari hubungan atasan dengan bawahan, struktur tugas yang diberikan (terstruktur/tidak) dan kekuatan posisi. Semakin baik ketiga aspek situasional tersebut dapat dimiliki oleh seorang pemimpin semakin besar pula kontrol atau pengaruhnya.
b. HERSEY-BLANCHARD SITUATIONAL LEADERSHIP THEORY (SLT)
Seorang pemimpin menurut teori ini bisa mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan tingkat kedewasaan anggota. Tingkat kedewasaan bawahan/anggota adalah kesiapan (readiness) untuk menjalankan tugas yang ditentukan oleh kemauan (willingness) dan kemampuan (ability).
|
Readiness
|
Orientasi
|
Style
|
|
|
Unable
& Unwilling
|
High Task & Low Relationship
|
Directing/ Telling Style
|
Berikan
tugas
spesifik
dan
pengawasan intensif
|
|
Able & Unwilling
|
Low
Task & High Relationship
|
Participating Style
|
Saling
berbagi
ide dan berdiskusi
dalam mengambil
keputusan
|
|
Unable & Willing
|
High Task & High Relationship
|
Selling
Style
|
Mengarahkan dengan cara
yang suportif
dan persuasif (perhatian, memperhatikan
kesetaraan, peduli)
|
|
Able & Willing
|
Low Task & Low Relationship
|
Monitoring/ Delegating Style
|
Memberikan
kepercayaan kepada
kelompok
untuk
mandiri mengerjakan
tugas
dan
mengambil keputusan
|
c. HOUSE PATH-GOAL THEORY
Kepemimpinan yang efektif
terwujud dari kombinasi banyak faktor antara lain faktor gaya kepemimpinan (directive,
participative, achievment-oriented, and supportive), faktor lingkungan
(struktur tugas, sistem kewenangan dan kelompok kerja) dan faktor karakteristik
individu (locus of control, pengalaman kerja dan kemampuan yang dimiliki).
Dalam teori ini menjelaskan bahwa tugas seorang pemimpin adalah menyediakan anggota informasi, dukungan dan sumber pendukung lain untuk mencapai tujuan/menyediakan jalur (path)
d. VROOM-JAGO LEADER PARTICIPATION MODEL
Efektivitas kepemimpinan dari tingkatan kemampuan dan partisipasi pemimpin dalam mengambil keputusan. Ada tiga gaya kepemimpinan dalam pengambilan keputusan yaitu authority decision yaitu pemimpin mengambil keputusan sendiri lalu mengkomunikasikan pada bawahan ; concultive decision yaitu pemimpin yang mengambil keputusan sendiri setelah mengumpulkan informasi dari bawahan ; grup decision yaitu pemimpin yang melemparkan masalah dan berdiskusi dengan anggota untuk mendapatkan kesepakatan solusi (group decision making) .
Demikikanlah penjelasan mengenai perilaku konsumen dan kepemimpinan. Semoga penjelasan ini dapat membantu :")






0 komentar:
Posting Komentar