Senin, 14 April 2014

Review Kuliah PIO (Penilaian Kinerja)

Hari ini tanggal 14 April yang bertepatan dengan hari Senin, hari dimana banyak orang mengawali rutinitas setelah menikmati akhir pekan, dan tidak asing lagi jika diiringi dengan keadaan jalanan yang padat sehingga mengharuskan saya untuk berangkat lebih awal dari hari biasanya. Karana sebelumnya adalah hari libur jadi seperti kebanyakan orang, sayapun menikmati hari libur di rumah saya yang berada di Cileungsi – Bogor. Tadi pagi-pagi sekali sekitar jam 05:00 WIB saya sudah berada di bis. Kebetulan saya mendapatkan giliran pertama untuk ditutor bersama rekan lain yang sama-sama mendapat giliran pertama sehingga saya harus datang lebih awal , karena tutor akan dimulai pada pukul 08:00 dan berakhir pada jam 09:00 jadi saya tidak boleh telat karena jika telat saya akan tertinggal materi yang juga akan berdampak pada anggota kelompok yang nantinya akan saya ajarkan.
            Hari ini, metode yang diberikan oleh dosen pengampu tidak seperti metode pembelajaran sebelumnya. Sebelum UTS metode yang diterapkan yakni seperti ceramah namun kali ini kami, mahasiswa diharuskan membentuk kelompok yang terdiri dari enam sampai tujuh orang. Nantinya setiap orang bertugas untuk menguasai satu materi dan akan di tutor oleh dosen pengampu setelah itu materi yang telah diberikan oleh dosen pengampu akan dibagikan kerekan anggota kelompok beserta penjelasan dan pemberian contoh. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih memahami materi.
Saat mengikuti tutor, saya merasa lebih paham, mungkin karena tempat tutor yang lebih nyaman, kemudian suasana kelas lebih kondusif karena jumlah mahasiswa lebih sedikit dari biasanya. Dalam metode yang baru ini juga memotivasi saya untuk benar-benar memahami materi yang diberikan oleh dosen karena nantinya saya yang akan mempresentasikan materi kepada teman-teman anggota kelompok. Selain itu setelah saya mempresentasikan materi kepada anggota kelompok, saya diberikan feedback oleh rekan-rekan yang dapat membantuatau mengevaluasi performa saya sehingga hal tersebut menjadi bahan pembelajaran saya untuk lebih baik lagi.
Namun ada pula beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi bahan evaluasi, yakni waktu yang terbatas ketika tutor, dosen tidak sempat memberikan penjelasan dua slide terkhir, waktu untuk mempresentasikan yang mencakup tanya jawab antar presenter dan anggota kelompok juga kurang memadai karena dosen menyertakan tugas dan diikuti pula dengan kuis.. Ruangan yang cukup padat karena diisi oleh beberapa kelompok yang masing-masing terdapat presenter yang juga menjelaskan materi mengakibatkan suasana menjadi gaduh.
Hari ini materi yang disampaikan adalah penilaian kinerja, penilaian kinerja sering disebut juga performance Appraisal/PA yaitu proses untuk mengevaluasi individu dalam organisasi. Hal-hal yang dievaluasi berupa prestasi kerja pegawai berdasarkan sistem/ peraturan yang telah ditetapkan, dengan cara membandingkan sasaran/ hasil kerjanya dengan standar pekerjaan yang telah ditetapkan.
Dalam menentukan PA terdapat tiga langkah, yaitu :
  1. Kriteria/ standar keberhasilan kinerja
  2. Metode pengukuran
  3. Subjek penilai
A.    Kriteria /standar keberhasilan kinerja memilki dua kriteria, yaitu
1.       Kriteria objektif, kriteria yang dapat dikuantitatifkan atau dijumlahkan, misalnya:
·         jumlah barang yang dapat diproduksi suatu perusahaan dalam waktu satu bulan
·         jumlah waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu produk
·         jumlah respon pelanggan berupa keluhan, semakin sedikit jumlah keluhan membuktikan semakin baik kinerja karyawan
·         jumlah keterlibatan pihak-pihak dalam menyelesaikan target produksi, misalnya untuk memproduksi baju pihak-pihak yang terlibat yaitu supplier bahan, penjahit, operator, bagian pengecekan sampai akhirnya bagian pengemasan untuk dipasarkan.

2.      Kriteria subjektif, kriteria ini yang diukur adalah kompetensi yang dimiliki oleh individu yang akan dinilai berupa pengetahuan, keahlian maupun kemampuan yang dimilki individu.

B.     Metode penilaian kinerja juga terdapat dua metode, yaitu:
1.         Metode Komparatif kinerja individu nantinya akan dibandingkan dengan individu lain dengan beberapa cara yaitu :
·         Pemeringkatan atau ranking, keseluruhan pegawai dalam satu kelompok diurutkan mulai yang terbaik hingga yang terburuk. Misalnya dalam divisi penjualan terdapat enam orang pegawai A,B,C,D dan E. Keenam orang pegawai akan diberikan peringkat siapa yang paling banyak melakukan penjualan dan siapa yang paling banyak memenuhi target penjualan.
·         Perbandingan berpasangan (paired comparison), Metode ini membandingkan setiap pegawai dengan pegawai lain untuk menentukan siapa yang terbaik, kemudian pegawai yang terbaik adalah pegawai yang memiliki jumlah terbaik dibandingkan dengan yang lain. Misalnya, jika mengacu pada contoh diatas maka cara melakukannya adalah :
A dibandingkan dengan B
A dibandingkan dengan C
A dibandingkan dengan D
A dibandingkan dengan E
Jika nilai perbandingan A lebih besar atau lebih baik dari kelima pegawai yang lain maka dapat disimpulkan A adalah pegawai yang tebaik.
·         Pengelompokan Pada Klasifikasi yang Sudah Ditentukan (forced distribution) metode ini dilakukan dengan cara membuat distribusi atau klasifikasi, misalnya dalam divisi penjualan seluruh pegawai diberikan tugas untuk memasarkan sejumlah barang, perusahaan meemiliki tiga kriteria tinggi,sedang,rendah namun sebelumnya perusahaan belum menentukan standar angka penjulalan yang dapat dikategorikan. Jumlah terbanyak penjualan barang yang nantinya berhasil dilakukan oleh pegawai, hal itulah yang akan menjadi kriteria tinggi. Misalnya :
A menjual sebanyak sepuluh, B sebanyak sembilan, C sebanyak 5 sekalipun jumlahnya hanya sepuluh, namun sepuluh tersubut menjadi kriteria tertinggi dalam penjualan.
2.         Metode individu kinerja individu tidak dibandingkan dengan individu yang lain. Metode ini bisa dilakukian dengan dua cara, yaitu :
·         Skala , yaitu penilaian yang didasarkan pada suatu skala. Penilaian dilakukan oleh seorang penilai biasanya atasan langsung, yang dilakukan secara subjektif. Misalkan skala        5:Amat Baik, 4:Baik, 3:Sedang, 2:. Cukup, 1:Kurang.
·         Checklist , yaitu penilaian yang didasarkan pada suatu strandar unjuk kerja yang sudah dideskripsikan terlebih dahulu, kemudian penilai memeriksa apakah pegawai sudah memenuhi atau melakukannya.

Menyusun kriteria penilaian kinerja
Dalam menyusun kriteria penilaian kinerja seperti yang telah disebutkan diatas yaitu terdiri dari dua hal diantaranya:
1.      Menyusun kriteria objektif/ hasil à buat dulu key performance indicator (KPI)
·         tentukan job description dari sutau pekerjaan
·         buatlah area kinerja dari job description yang telah didapatkan
·         tentukan KPI , berupa hal-hal yang dapat dijumlahkan
·         Tentukan bobot penilaian, bobot harus berjumlah 100, pembrian bobot pada masing-masing KPI disesuaikan oleh kebutuhan penilai yang dianggap memiliki porsi dominan maka diberi bobot lebih tinggi
·         tentukan berapa banyak jumlah target yang bisa dicapai oleh pegawai
·         tuliskan jumlah realisasi yang benar-benar dikerjakan oleh pegawai
·         hitunglah skor yang didapatkan dari membagi nilai ralisasi dengan nilai target kemudian dikalikan 100
·         hitunglah skor akhir yang bisa didapatkan dari mengalikan nilai skor dan nilai bobot kemudian di kalilikan 100
·         jumlahkan keseluruhan nilai akhir, nilai tersebut merupakan nilai dari kriteria objektif
2.      Menyusun kriteria subjektif à tentukan dulu potensi/ kompetensi/ pengetahuan/ keahlian/ kemampuan seperti apa saja yang dibutuhkan untuk seseorang berhasil dalam pekerjannya .
·         Tentukan Kompetensi, kompetensi bisa berdasarkan pada kamus kompetensi spencer, kemudian diberikan nilai.
·         Penilaian biasanya berdasarkan rangking, misal 1-5 semakin tinggi berarti semakin baik.
·         Daptkan nilai total dengan menjumlahkan nilai yang diberikan pada setiap kompetensi kemudian membaginya dengan banyaknya kompetensi yang dibuat kemudian dikalikan koefisien 20.
·         Nilai tersebut merupakan nilai dari kriteria subjektif
3.      Pembobotan aspek penilaian, pembobotan ini adalah cara untuk mengetahui nilai keseluruhan dari pegawai, caranya ialah
·         Menentukan persentase kriteria objektif dan subjektif, besarnya persentase didapatkan dari kriteria manakah diantara kriteria objektf atau subjektif yang paling dominan. Semakin dominan maka semakin besar persentase yang harus diberikan yan terpenting adalah jumalah bersentasenya sebesar 100%.
·         Misalnya dalam divuisi penjualan yang paling dominan adalah kriteria objektif, maka kita bisa memberi persentase sebanyak 60% pada kriteria objektif dan 40% untuk kriteria subjektif.
·         Maka akan didapatkan skor total dengan cara
-          skor total penilaian kinerja karyawan (KPI) dikalikan 60%
-          skor kompetensi dikalikan 40%,
-          kemudian keduanya dijumlahkan
Hasil penilaian Kinerja
Setelah mendapatkan hasil penilaian kinerja karyawan, maka langkah selanjutnya adalah
·         Pengambilan keputusan untuk pengembangan kinerja selanjutnya :
      Poor performance
      Average performance
      Good performance
      Outstanding performance
Dari hasil skor total tersebut, pegawai akan dimasukan kedalam empat kriteria diatas, berdasrkan rentang yang telah di tentukan
·         Mengkomunikasikan hasil penilaian kinerja kepada karyawan dan langkah pengembangan kinerja selanjutnya : Bonus, kenaikan gaji, promosi, training plan
·         Hasil dari penilaian kinerja yang disampaikan kepada karyawan bermanfaat untuk meningkatkan motivasi karyawan
·         Meskipun karyawan berda pada posisi good/outstanding bukan berarti pegawai tersebut tidak akan ditinjak lanjuti untuk penilaian. Penilaian akan terus dilaksanakan agar karyawan tersebut dapat mempertahankan posisi atau performa yang telah didapatkan.
Kesalahan dalam proses penilaian kinerja
1.      Alat penilaian kinerja
·         Validitas rendah à standar kinerja yang digunakan tidak mengacu pada jenis pekerjaan yang dinilai , misalnya jenis pekerjaanya adalah sales tapi standar yang digukan adalah standar penilaian dosen
·         Standar penilaian tidak realistis , misalnya tuntutan yang sangat berat. Seorang penjahit di suatu perushaan pakaian tidak mungkin dapat menyelesaikan 100 pasang pakaian baju dan celana dalam waktu delapan jam kerja.
·         Pembobotan tidak sesuai profil pekerjaan,  pembobotan yang telah kita bahas diatas bisa jadi pemberianya tidak sesuai dengan kriteria yang harus dominan diniliai.
2.      Penilai kinerja
Ketidaksiapan penilai à tidak paham cara penilaian kinerja
Subjektivitas penilai :
1.      hallo effect: penilai menyukai/ tidak menyukai pegawai yang dinilai.
2.      liniency and severity effect: penilai merasa pada dasarnya semua pegawai baik
3.      Severity effect: penilai merasa pada dasarnya semua pegawai buruk
4.      Central tendency: penilai selalu memberi nilai tengah
5.      Assimilation and differential effect: penilai cenderung menyukai pegawai yang mempunyai sifat/ ciri-ciri seperti mereka
6.      Differential effect:  penilai cenderung menyukai pegawai yang memiliki sifat/ ciri-ciri yang tidak ada pada penilai  
7.      First impression error: penilai mengambil kesimpulan tentang pegawai berdasarkan kontak pertama
8.       recency effect: penilai cenderung memberikan nilai atas dasar perilaku yang baru saja disaksikan penilai, dan melupakan perilaku lalu


 Rizky Fauzi (1602011052)

0 komentar:

Posting Komentar