Senin, 14 April 2014

PIO's Effect

Aloha, selamat malam :)

Memulai hari Senin dengan mengikuti mata kuliah Psikologi industri dan organisasi yang sebenarnya tak terlalu kuminati, membuat pikiranku tak menentu. Apalagi kali ini? Masihkah semembosakan beberapa minggu yang lalu? Banyak pikiran aneh berkecamuk dalam kepalaku karena 'katanya' metode hari ini berbeda. (akibat terlambat di minggu lalu, jadi kurang tau meski udah tanya sana sini) Kebingunganku bertambah dengan terlambatnya kuliah dimulai. Jam sembilan lewat sepuluh, masih juga tak ada tanda-tanda kedatangan Bu Nuri. Suatu hal yang aneh karena ia tak pernah memulai kuliah tak tepat waktu (setahuku). Menit demi menit berlalu. Sembilan lewat tiga puluh lima menit baru kulihat Bu Nuri bersama para tutor memasuki kelas. Setelah menjelaskan sedikit, ia keluar, pun beberapa tutor. Di kelas, Ketty menjelaskan cara menuliskan kesan ke dalam blog. Beberapa saat kemudian, seseorang menyarankan tutor untuk menjelaskan kuliah hari ini.

Namun kala itu, hanya Rizky Fauzi yang ada di kelas sebagai tutor hari ini. Karena tutor lain 'sepertinya' sedang mencari laptop sebagai alat bantu penjelasan materi. Aku merasa bingung, tidak jelas, dan seperti... 'apa sih?' terkait metode baru ini. Setelah Rizky menjelaskan lima slide, para tutor yang lain kembali ke kelas. Awalnya, beberapa teman menyarankan para tutor untuk maju satu persatu bergantian untuk menjelaskan materi. Kesanku pun tentang metode ini semakin membingungkan karena ketidakpahaman para mahasiswa terkait metode ini secara jelas. Namun, beberapa lagi menyarankan, para tutor tetap menjelaskan ke kelompoknya masing-masing agar kami dapat memberikan penilaian kepada tutor tersebut nantinya. Atas saran tersebut, kami semua berpisah ke dalam kelompok masing-masing dengan tutor masing-masing. Kelompokku memilih tempat diluar sebagai bentuk antisipasi kebisingan di dalam kelas. Lalu, mengalirlah penjelasan itu dari Kak Shalia sebagai tutor hari ini.

Kak Shalia dapat menjelaskan materi dengan baik meski terbata-bata pada awalnya. Ia juga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang banyak (sebentar Kak Shalia jelasin, sebentar aku bertanya). Lagipula, karena kelompok kami memilih tempat di luar ruang kelas, Kak Shalia tidak perlu bersuara terlalu kencang atau mengulang penjelasan karena tempat yang tenang. Kami semua dapat mendengar penjelasan Kak Shalia dengan baik. Sebagai saran, mungkin setiap kelompok berdiskusi di spot yang berbeda untuk menghindari kebisingan. Misalnya, dua kelompok di dalam kelas, sisanya di luar kelas namun tidak terlalu jauh dari kelas sehingga masih dapat di pantau. Sepertinya, hambatan dari diri hari ini tidak mengganggu konsentrasi serta pemahaman materi hari ini (meski hambatannya adalah: sakit kepala berat).  Juga tidak ada hambatan lainnya.

Banyak materi terkait Penilaian Kinerja yang di dapat. Mulai dari mengapa harus ada penilaian kinerja, apa itu penilaian kinerja, bagaimana cara menilai suatu kinerja, dll. Penilaian kinerja harus ada sebagai bentuk evaluasi pekerja demi kemajuan perusahaan atau organisasi. Penilaian kinerja merupakan suatu evaluasi dari apa yang telah dikerjakan oleh pekerja dan dibandingkan dengan target/standar yang telah ada. Ada tiga cara untuk menilai suatu kinerja yaitu, kriteria, metode, dan subjektivitas penilai. Ada dua kriteria yaitu objektif dan subjektif. Kriteria objektif menilai individu berdasarkan kuantitas atau jumlah pekerjaan yang telah dilakukan (jumlah produksi, jumlah kesalahan) ataupun hal lain yang dapat dihitung secara objektif. Kriteria subjektif menilai individu berdasarkan kualitas individu itu sendiri (seperti, kemampuan, ilmu pengetahuan, skill, penguasaan). Ada dua metode yaitu metode komparatif dan metode individu. Metode komparatif merupakan metode yang membandingkan individu dengan individu yang lain (ranking, paired comparison, forced distribution). Ranking merupakan metode komparatif yang mengurutkan individu dari yang terbaik hingga yang terburuk. Paired comparison adalah metode komparatif yang membandingkan individu secara berpasangan dengan individu lainnya, individu yang paling banyak mendapatkan kategori terbaik merupakan individu terbaik. Forced distribution merupakan  metode komparatif yang klasifikasikan beberapa nilai dalam satu klasifikasi (mis. 80-100 = A). Metode individu adalah metode yang tidak membandingkan individu (rating, checklist). Rating merupakan metode individu yang menilai seberapa baik individu tersebut tanpa membandingkannya dengan orang lain, berdasarkan kinerjanya sendiri dan kesesuaian dengan target/standar yang telah ada (mis. nilai seorang individu adalah 75 dari 100 atau dengan skala baik, tidak baik). Checklist merupakan metode individu yang menilai kesesuaian pekerjaan individu dengan pekerjaan yang telah ditugaskan. Berdasarkan kriteria objektif dan subjektif adanya pengukuran menggunakan key performance indicator dan kompetensi. Key performance indicator digunakan untuk mengukur kriteria objektif berdasarkan jumlah/ kuantitas. Sedangkan kompetensi mengukur kriteria subjektif berdasarkan pengetahuan/kompetensi dengan menggunakan checklist ataupun skala likert.

Pembobotan kedua aspek tersebut tergantung sesuai kebutuhan penilaian misalnya, seorang artis lebih diutamakan kompetensinya sebagai pemain drama/film dibandingkan dengan KPI-nya (seberapa banyak jumlah film yang dimainkan). Sehingga pembobotan akan lebih tinggi pada aspek kompetensi. Hasil penilaian kinerja dapat digunakan sebagai evaluasi karyawan. Apakah karyawan tersebut harus diberi bonus, kenaikan gaji, atau bahkan training untuk meningkatkan skill nya dalam bekerja. Hasil penilaian kinerja juga dapat digunakan untuk memotivasi pekerja untuk lebih giat, mempertahankan, bahkan meningkatkan kinerjanya. Kesalahan dal penilaian kinerja terdapat pada alat tesnya (karena tidak valid) atau pada subjektivitas penilai. Ada beberapa hal menjadikan penilai subjektif. Centrral tendency yang membuat penilai lebih melihat ke tengah (biasa-biasa saja atau sedang-sedang saja) tidak terlalu baik juga tidak terlalu buruk. Leniency effect yang membuat penilai melihat semua individu ialah baik. Sehingga ia akan menilai semua orang baik. Severity effect yang membuat penilai melihat semua individu ialah buruk. Sehingga ia akan menilai semua orang buruk. Recency effect adalah penilai yang hanya menilai berdasarkan kejadian yang baru saja terjadi tidak dengan kejadian di masa lampau.

Demikian kesan, saran, serta materi yang ditulis kembali dari memori. Merci.
Au revoir

sunia f. azmi

0 komentar:

Posting Komentar