Hello Sunday
!! Semoga masih berkenan ya Ibu Nuri menilai tulisanku karna akau baru
menuliskan sekarang Hehehe :)
Tanggal 15
Mei 2014 yang baru saja berakhir beberapa hari yang lalu merupakan my Thursdate
with my beloved people ( Psychofame ) in Gandaria City. Coba deh tanya dulu, siapa yang pernah
ke mall bareng satu angkatan?? Pasti langka ditemukan , hehehe .. Ga kebayang
dan lucu aja setiap jalan dan hampir dsetiap lantai saling bertemu temen
sendiri yang biasanya belajar bareng di kelas.
Kami ditugaskan
perkelompok untuk mengobservasi dan mencari informasi terkait salah satu brand fashion ternama, karna brand tersebut familiar
dan kami pun user dari pengguna bran tersebut jadi kami tidak mengalami
kesulitan yang berarti ketika langsun turun ke lapangan untuk melaksanakan
tugas.
Awalnya
merasa bingung dan ga terbayang bagaimana mekanisme pembelajaran yang akan kita
lakukan di Gancit tapi ternyata menyenankan dan menginspirasi dengan adanya
nara sumber yang cantik, menarik, cerdas dan sukses.
Materi kali
ini tentang perilaku konsumen dan kepemimpinan , kita bahas satu-satu yaa ..
I.
Perilaku Konsumen
Perilaku
konsumen adalah perilaku membeli barang yang dilakukan oleh manusia
dengan melalui beberapa tahap dimulai dari adanya kebutuhan atuapun keinginan
untuk mendapatkan barang yang diinginkan, mengevaluasi barang yang mingin
dibeli sampai pada kahirnya sampai pada tahapan memebeli barang yang
diinginkan.
Kenapa juga
sampai ada teorinya, padahal hanya perilaki membeli? Jadi, ternyata hal
tersebut didasari oleh konsep pemasaran dibidang bisnis dari tahun 1950, dalam
konsep tersebut terdapat tiga bagian yaitu:
1.
Production concept (konsep produksi) berpendapat
bahwa produksi barang akan laku
dipasaran jika suatu perusahaan memproduksi suatu barang yang serupa dengan
yang sudah ada dipasaran dengan harga yang murah dan terjangkau.
2.
product
concet (konsep produk) berpendapat bahwa
suatu produk yang akan laku dipasaran adalah barang yang berkulalitas baik
dilengkapi fitur-fitu yang lengkap.
3.
selling
concept (konsep penjualan) berasumsi bahwa
barang akan terjual apabila ada usaha dari pihak penjual untuk memasarkan, yang
menjadi titik tumpu dalam selling concept adalah bagaimana barang yang
diprroduksi bisa habis terjual tanpa memikirkan kepuasan konsiumen dan kualitas
barang.
Selain ketiga hal tersebut terdapat pula marketting product, yaitu prusahaan akan memproduksi barang dengan melihat
dahulu apa yang menjadi kebutuhan konsumen. Perusahaan akan fokus tentang
barang apa yang nantinya akan laku di pasaran dan untuk memenuhi hal tersebut
perusahaan harus melakukan survey dan juga riset.
Untuk mengaplikasikan marketting
product, kita harus melalkukan beberapa tekhnik dalam bidang pemasaran,
dengan memeperhatikan bebrapa hal berikut ini:
a.
Market
Segmentation : Proses membagi pasar menjadi
bebeerapa kelas atau mengelompokan pasar berdasarakan kesamaan karakteristik
dan kebutuhan, misalnya keadaan geografik,demografik, psikografik dan perilaku
dari populasi masyarakat
b.
Targetting, kita harus memiliki target yang jelas dan spesifik kemana
barang yang akan dijual dan siapa
populasinya.
c.
Positioning, dalam hal ini sebagai pihak penjual kita membuat
suatu gambaran yang baik juga menarik
sehingga menjadi ciri khas dari baranhgyang kita produksi yang dapat diingat
oleh para konsumen. Baiknya positionang dilengkapi dengan slogan ataupun symbol,tulisan,gambar
yang unik.
d.
Martketting
Mix ialah sejumlah alat pemasaran yang
digunakan dalam teknik penjualan yang mengkombinasikan dengan 4 cara
1.
Price, menyesuaikan harga dengan target pasar
2.
Place,
mendistribusikan barang yang diproduksi ke berbagai toko dan juga
memeperhatikan letak toko yang sebaiknya strategis
3.
Promotion, mempromosikan hasil barang produksi agar laku terjual
dengan memasang iklan, brosur,sosial media, membuka stand dll.
4.
Product,
memperhatikan kualitas dari barang yang diproduksi
baik dari tampilan, fitur, kenyamanan dll.
Tahap-tahap dalam
pembelian juga memiliki berbagai komponen, yaitu:
a.
Pengenalan
Masalah, mengalami suatu hal yang menjadi insight untuk membeli suatu
barang yang menjadi kebutuhan ataupun keinginan.
b.
Pencarrian
Informasi, berusaha mendapatkan informasi mengenai barang yan akan kita beli,
seperti mencari refrensi dari teman, dari internet ataupun sekedar hunting ke
toko yang menjualk barang yang diinginkan.
c.
Evaluasi
alternatif, mengevaluasi beberapa merek yang yang menjadi refrensi barang yang
akan ia beli
d.
Keputusan
Pembelian
Setelah individu
membeli barang yang diinginkan, individu akan merasakan kepuasan atau
sebaliknya. Sebagai penjual yang baik atau marketter yang bain maka sebaiknya
kita tetap memperhatikan bagaimana efek pasca pemebelian dari barang yang kita
produksi sebagai bahan evaluasi.
II.
Kepemimpinan
Dalam organisasi
ataupun dalam perusahaan pasti ada pemimpin dan management, dan selama ini kita
kerap kali menyamakan kedua istilah tersebut, namun teryata hal tersebut
berbeda.
Menejemen ialah bagian
yang memastikan bahwa seluruh tugas terlaksana, mulai dari penyusunan rencana,
strukturisasi organisasi, dan memonitori jalanya pekerjaan.
Sedangkan pemimpin
atau memimpin urusannya
dengan merubah, dengan cara mengarahkan anggota mengembangkan visi,
mengkomunikasikan ide, menginspirasi, dst.
Seorang pemimpin yang
baik ialah yang mampu mempengaruhi anggota kelompoknya untuk mencapai tujuan ,
seorang pemimpin tidak bisa hanya ditentukan dari jabatan yang dimiliki dalam
sebuah organisasi atau perusahaan, sebaliknya pula, jabatan yang tinggi belum
menentukan bahwa individu tersebut adalah seorang pemimpin.
Dengan memahami
pemimpin dan menejerial maka akan memepermudah kita untuik mencapai visi misi
suatu organisasi. Teori dasar kepimpinan terdiri dari :
1.
Trait Theory : Kita mengenali suatu karakteristik pemimpin dengan cara
memahami sifat yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Dalam teori tersebut,
menyimpulkan bahwa individu dengan trait
ekstrovet merupakan karakteristik sempurna untuk menjadi seorang pemimpin,
dikarnakan sifatnya yang terbuka, mudah berbaur dengan lingkungan dll.
2.
Behavioral Theory : Seorang pemimpin dapat dibentuk oleh lingkungan, dapat
dilatih berdasarkan kriteria yang ditentukan.
3.
Contingency
Theory :
a.
Fiedler
Contingency Theory: Suatu pemimpin akan
berhasil memimpin suatu organisasi jika kontrol yang dilakukan sesuai dengan
karakteristik dirinya, hal ini bisa diketahui dengan kuisioner yang nantinya
akan menentukan apakah individu memiliki orientasi yang berpusat pada
penyelesaian tugas atau yang berorientasi dengan hubungan.
Dalam hal tersebut
juga dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu bagaimana hubungna atasan
dengan bawahan, struktur tugas yang dijalankan serta seberapa kuat pengaruh
atasan dalam menjalankan perintahnya
b.
Hersey Blanchard Situational Theory : Seorang pemimpim akan berhasil jika ia bisa dengan tepat
memilih gaya kepemimpinan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Hal tersebut
dibarengi dengan kesiapan dan kedewaasaan. Kesiapan yang dimiliki ditentukan
oleh kemauan dan kemampuan dalam menjalankan tugas
c.
House Path-Goal Theory : gaya kepemimpinan ini
ialah , pemimpin memfasilitasi segala hal yang dapat merujuk kepada pemenuhan
tujuan suatu organisasi.
4.
Vroom-Jago Leader Participation
model : Seorang pemimpin dapat memutuskan
suatu solusi dari masalah dengan sendiri ataupun dengan mendiskusikan dengan
anggota lain.
Berdasarkan pengalaman
nara sumber yang saat ini menjabat sebagai Region Operation Supervisor
yang sejatinya ialah seorang pemimpin, baik mengelola suatu organisasi tauapun
perusahaan hendaknya disesuaikan dengan karakteristik individu, ketika kita
berhadapan dengan berbagai pihak tentunya akan banyak variasi trait yang tidak
bisa kita perlakukan dengan sama.
Keunikan serta
perbedaan tersebut baiknya bisa menjadi bahan evaluasi pemimpin untuk bisa
memahami kondisi aanggota yang lain agar tetap terjadinya kondisi bekerja yang
nyaman dan juga demi terwujudnya tujuan inti dari perusahaan.
Tentunya, tidak serta
merta begitu saja dilakukan, karna terkadang terdapat individu yang kurang
memahami maksud dari apa yang kita sampaikan dan kerap[ kali disalah gunaka,
dalam hal ini perhatian lebih dimulai dari pengrekrutan pegawai dengan kriteria
memilik kemamuan dan kemampuan dalam bidang yang nantinya akan ditempatkan.
Dalam mengambil
keputusan bisa menggunakan kedua hal, yaitu pemutusan masalah berdasarkan
pemikiran pribadi jika solusi yang harus dikeluarkan memang bersifat darurat
dan anggota organisasi yang lain bisa dilaksanaka ketika solusi tersebut
merupkan jawaban dari masalah yang terjadi berkaitan langsung dengan performa
mayoritas anggota , misalnya dalam hal pemasaran.
Rizky Fauzi






0 komentar:
Posting Komentar