Dear Edta (dan semuanya)
Saya sudah baca tulisan Edta yang menyampaikan beberapa keluhan tentang metode ajar saya. Saya akan jelaskan hal-hal yang ditanyakan dan disampaikan oleh Edta. Tadinya saya mau panggil Edta untuk bertemu saya dan saya jelaskan langsung. Tapi dipikir-pikir, lebih baik saya jelaskan di blog supaya yang lain yang (siapa tahu) punya keberatan yang sama bisa paham juga.
Sebelum saya jelaskan poin per poin, saya mau ajak Edta untuk coba mengingat-ingat lagi apa yang saya sampaikan pada pertemuan pertama setelah UTS. Saat itu saya jelaskan bahwa saya akan merubah metode ajar untuk kelas PIO, mengingat beberapa keluhan yang kalian sampaikan di borang evaluasi dosen, dan mengingat banyak mahasiswa yang kurang suka belajar 3 sks di dalam kelas dengan metode full kuliah. Kalo istilah saya.. kalian itu bukan anak dalam kelas banget. Saya juga melihat karakter-karakter kepemudaan kalian masih kurang terbentuk, dan karenanya kalian harus mengalami kejadian revolusioner sehingga potensi-potensi baik dalam diri kalian bisa keluar. Karakter kepemudaan maksudnya gimana sih itu?
Saya suka prihatin ketika melihat mahasiswa tidak berhasil dalam kuliahnya. Yang lebih memprihatinkan sebenarnya bukan nilai kuliahnya, tapi ketika mahasiswa itu tidak tahu apa yang dia pelajari selama kuliah, tidak tahu kenapa dia gagal, lalu alih-alih mengevaluasi dirinya sendiri tapi justru mengevaluasi orang lain sebagai penyebab kegagalan dirinya. Banyak mahasiswa juga yang saya lihat cepat menyerah ketika berhadapan dengan situasi yang agak rumit dan sulit dari umumnya. Banyak juga yang tidak percaya diri, pasrah terhadap keadaan, bingung mencari jawaban dari permasalahannya. Ah, banyak deh. Wah kalau lihat mahasiswa-mahasiswa seperti itu, saya gak kebayang ya apakah mereka-mereka ini nanti bisa survive tanpa orang tuanya di dunia.
Apakah semua mahasiswa begitu?
Tentu tidak!
Banyak juga di antara mahasiswa yang punya potensi. Banyak juga yang pintar. Nah, sayangnya mereka-mereka yang semangatnya tinggi ini juga tidak terfasilitasi mengembangkan potensi dirinya melalui metode kuliah yang ada. Saya sebagai dosen merasa terusik dengan hal ini. Saya sendiri mengalami masa kuliah S1 yang tidak terlalu membahagiakan. Sejauh yang saya ingat, kuliah saya hanya berisi kuliah, ngerjain tugas, diskusi kelompok, dan ujian. Saya merasa metode kuliah itu membuat saya terkurung di dalam kelas. Tidak bebas.
Saya pernah cerita ini di dalam kelas, bahwa ketika saya lulus S1, saya merasa handicapped. Cacat. Tidak bisa apa-apa. Kebetulan saya tidak begitu berminat di klinis, dari dulu memang minat saya di PIO. Sementara ilmu PIO yang diajarkan ke mahasiswa saat saya S1 itu bisa dibilang materi-materi yang udah juadulll, dibawakan oleh dosen pakai OHP dengan tulisan yang sudah kabur-kabur, dan dosen yang berbicara dengan dirinya sendiri-bukan dengan kelas. Saya menyukai PIO murni karena ilmunya menarik untuk saya, bukan karena faktor dosennya, :D
Ketika kerja, saya skoring gak bisa, interpretasi apa lagi. Disuruh bikin training berbasis kompetensi saya bengong, disuruh konseling karyawan saya Cuma bisa puk-puk karyawannya, yahhh.. cukup mengenaskan deh sarjana UI yang satu ini :))
Oleh karena itu, saya berharap bisa membawa perubahan untuk kalian. Padahal kalau dipikir, ngapain amat saya susah-susah mengkreasikan metode ini dan itu. Buang-buang pikiran, energi, duit, dan waktu. Saya seorang Ibu yang ketika di rumah seharusnya saya bisa main dengan anak dan have a quality time with my husband and my daughter. Tapi sering saya begadang untuk memastikan kalian bisa mendapat pengalaman belajar yang menarik. (baru tau yaa dosen juga begadang, kirain mahasiswa doang kan yang begadang? Hehe..). Padahal kalau saya mau pakai materi tahun lalu yang sudah jadi juga beres. Toh kalian lulus atau tidak saya juga tetap digaji, kan? But I did not choose to be like that. Kenapa? Wah kalau saya jelasin yang ada curcol terus nih :)) Sebutin aja deh dosen mana yang kalian kenal, mau di YARSI ataupun di seluruh Indonesia, yang mau mikirin dan mengkondisikan kelas kuliah sampe ke mall segala.... :D
Singkat kata, intinya apa yang saya lakukan, putuskan, dan sampaikan ke kalian pada dasarnya didasari niat yang positif. Ingin kalian berubah. Tentu saja saya sedih kalau kalian tidak bisa menangkap niat positif itu. Tapi tentu saja hal itu tidak mengganggu saya. Yah pastilah saya tidak mungkin bisa memenuhi harapan semua orang. Dan target saya memang bukan untuk itu. Dalam teori pengembangan talent, justru talent akan muncul di tengah-tengah situasi yang sangat menekan, dimana situasi menekan mendorong manusia mengerahkan seluruh kapasitasnya. Jadi membuat aktivitas yang MENEKAN (baca : MENANTANG) lah yang jadi justru target saya. Jangan heran kalau tugas-tugas yang saya kasih sering ‘gila’ dan keliatannya ‘gak masuk akal’. Tapi saya yakin bukannya gak bisa dikerjakan atau diselesaikan, hanya butuh sedikit strategi dan kreativitas yang lebih untuk menyelesaikannya. Kalau tidak terima dengan hal itu, kalian bisa pilih :
1. Solve the problem, atau
2. Leave the problem
Saya yakin saya sudah mengusahakan proses yang lebih positif, kalau gak suka yaa.. itu sih terserah mahasiswa ya. Kan yang kuliah kalian, bukan saya. Bukan saya yang harus memotivasi kalian untuk mau belajar, tapi diri kalian sendiri yang harus memotivasi diri kalian untuk mendapat ilmu lebih banyak, nilai lebih baik..
Nah, coba diingat bahwa saya pernah menyampaikan bahwa saya tidak ingin hanya memasukkan teori-teori saja, tidak hanya memahami aplikasi dari konsep dan teori itu ke dalam praktek, tapi juga saya ingin merancang aktivitas belajar yang sekaligus membentuk karakter kalian di banyak aspek. target saya setidaknya ada tiga :
- Mahasiswa paham teori dan aplikasinya
- Terbangun karakter-karakter : persisten, kreatif, berani, teamwork, leadership (mampu mengambil keputusan, mengelola resources dengan efektif untuk mencapai target), dsb.
- Menyiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja, entah sebagai karyawan, atau sebagai pemberi kerja..
Nah, aplikasinya bagaimana? Tugas harus saya buat se-relevan mungkin dengan teori, saya coba masukkan situasi dunia kerja, dsb dsb.. Dunia kerja itu seperti apa?
Dunia kerja itu dinamis. Kita mendapat tantangan bertubi-tubi dari banyak sumber : atasan, teman, tugas. Kalau bisa sih segala sesuatu itu harus mau kita, ya. Gaji gede, bos baik, temen baik, tugas gampang, kantor deket, jam kerja 2 jam aja, 2 hari seminggu :) .. Tapi dalam situasi nyata, bekerja itu bisa berada di neraka *lebayy*. Dan semua itu harus kita hadapi. Dihadapi dengan apa bagaimana? Silahkan putuskan sendiri
Nah sekarang saya jawab pertanyaan Edta poin per poin :
Edta : Saya merasa keberatan jika pengumuman nilai ujian diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah apalagi jika nilai itu dipajang di madding sehingga khalayak bisa membacanya karena itu dapat merusak motivasi belajar mahasiswa yang mendapat nilai rendah, kalaupun ingin diurutkan seperti demikian harusnya hanya dicantumkan NPM dan nilainya. Mba seharusnya bisa peka akan hal itu terlebih Mba Nuri sudah lulus psikologi pasti bisa membayangkan kondisi psikologis mereka.
Jawab :
Kondisi saat itu sudah banyak sekali mahasiswa yang bolak-balik nanya sama saya “mbak, kapan nilainya dikeluarin”. Jujur saat itu deadline tugas yang harus saya kerjakan banyak sekali, dan di hari saya mengeluarkan nilai, itu memang bener-bener deadline hari terakhirrrr banget bagi saya ngeluarin nilai. Ketika saya sudah selesai input nilai di sisakad, dan lalu saya print lembar nilai, ternyata masih harus dikoreksi lagi karena ada nilai yang belum masuk. Akhirnya saya input lagi di sisakad, dan saya sort untuk memastikan semua nilai sudah masuk, baru saya import nilai ke excel untuk diprint lagi. Ketika sudah diprint, saya baru ngeh ternyata ketika saya sort di sisakad, nilai yang diimport ke excel pun juga ikut ter-sort dari tertinggi ke terendah. Saya sempat ragu untuk menempel nilai ini di mading karena ingin menjaga harga diri mahasiswa yang nilainya rendah, namun berhubung saya sudah tidak punya waktu lagi untuk edit dan sudah banyak sekali yang mendesak untuk mengeluarkan nilai, yaa akhirnya saya pajang. Di sini saya akui memang seharusnya tidak seperti itu. Tapi Edta dan lainnya perlu tahu, hal itu bukan karena saya ingin menurunkan motivasi mahasiswa yang nilainya rendah.
Yang juga membuat saya tetap menempel nilai itu di mading, karena saya juga waktu S1 sering menghadapi kenyataan pahit melihat nilai saya dipajang di TU. Bagi saya hal itu justru memotivasi saya untuk lebih baik lagi, tidak mau lagi ketahuan teman-teman lain kalau nilai saya jelek. Nilai rendah memang tidak membanggakan, tapi dengan menghadapi kenyataan bahwa teman-teman tahu nilai saya jelek, rasa malu itu bisa memotivasi saya mendapat nilai yang lebih baik dari mereka di kemudian hari.
Kegiatan membanding-bandingkan nilai itu memang gak bisa dihindari. Mau saya pajang di mading NPM dan nilai doang sekalipun, saya tahu ada saja mereka-mereka yang hafal NPM teman se-gengnya. Kalau saya pajang nilai yang bagus doang, berarti yang namanya gak dipajang nilainya jelek dong. Jadi intinya mau dipajang dengan gaya apapun juga, tetap akan ada ‘banding-bandingin’. Derajatnya tidak ada yang lebih ringan rasa sakitnya. Kalau mau itu nilai tidak perlu dipajang sekalian,
Edta : Saya merasa keberatan dengan tugas wawancara FAN Campus yang pertanyaannya sampai 2 lembar dengan waktu kunjungan yang singkat karena itu sangat tidak efisien, seharusnya bisa dibuat lebih simple.
Jawab : Sudah saya jawab di pengantar tulisan ya..
Edta : Saya sangat merasa keberatan dengan kunjungan ke Mall Gancit karena sangat tidak efisien dan boros waktu, tenaga dan uang. Mba Nuri seharusnya bisa dipikirkan lebih matang lagi dengan konsep kuliah yang seperti ini terlebih katanya kita kumpul di Masjid. Saya ingin mengatakan bukannya masjid itu tempat beribadah?tidak sopan jika tempat beribadah yang seharusnya untuk beribadah lalu dipakai untuk berkumpul apalagi jika nantinya untuk kegiatan perkuliahan juga (ga diusir satpam juga udah untung, Mba).
Jawab :
Edta, maksudnya tidak efisien dan boros bagaimana ya? Tidak singkat, gitu? Saya sudah jelaskan bahwa pertemuan di Gancit memang untuk meng-cover tiga pertemuan sekaligus. Itu berarti 7,5 jam. Yang disebut efisien itu kalau 7,5 jam disingkat jadi 1 jam. Tapi kalau 1 jam itu bukan tiga pertemuan lagi namanya :)
Boros? Saya tidak menginstruksikan kalian untuk belanja apapun. Kalaupun kalian keberatan dengan harga makanan di Gancit, kalian bisa bawa bekal sendiri. Harus keluar biaya parkir? Bensin? Kalian bisa memilih untuk naik angkutan pribadi. Kalian yang tentukan berapa besar resiko yang harus kalian hadapi. Itu bagian dari “masalah” yang saya kasih yang harus kalian pikirkan bagaimana menyelesaikannya dengan strategi yang baik.
Neng, janganlah membuat ribet diri sendiri. Saya setiap hari harus berangkat Tangerang-Cempaka Putih dengan total PP saja 5 jam. Kalau saya mau bikin ribet ya ribet. Rumah beberapa dari kalian pun jauh-jauh, ada yang di Mega Mendung, Bekasi, Depok. Let’s solve the problem. Karena tidak semua hal bisa selalu sesuai dengan keinginan kita.
Tidak sopan kuliah di masjid? Kata siapa? (Kata Edta, hehe.. kidding, Ta).
Masjid itu bukan hanya tempat sholat dan ngaji. Rasulullaah itu memusatkan aktivitas kemasyarakatan di Masjid. Termasuk kegiatan sekolah (baca : belajar). Di masjid itu kita bisa apa saja, neng. Musyawarah, belajar, berorganisasi, kecuali jualan yaaa…
Pemikiran bahwa masjid hanya tempat sholat dan ngaji itulah yang menjadikan masjid-mesjid kita sekarang sepi dari pengunjung. Ummat jauh dari masjid. Tidak menjadikan masjid tempat nongkrong seharusnya. It’s wrong, dear. Hanyaaaaa….. memang aktivitas yang dilakukan di masjid harus disesuaikan jangan sampai mengganggu ketenangan beribadah yang lain.
Makanyaaaa……… saya kondisikan tutorial dan sharing narasumber itu dari jam 9-12. Harusnya sudah selesai sebelum adzan dzuhur berkumandang. Tapi karena mulai sharing narasumber agak telat, jadi lumayan bikin insiden juga ya *teringat dibilang munafik sama marbot, hiks*. Saya pun mengkondisikan presentasi kelompok sore ba’da ashar di perpustakaan di luar masjid, supaya tidak mengganggu jamaah yang sholat di dalam. Paham, ya?
Edta : Kenapa harus di Gancit? Bukankah kampus kita dikelilingi mall-mall besar, seperti Kelapa Gading,MOI,Atrium Senen, terlebih Artha Gading yang sepi bisa digunakan untuk kegiatan perkuliahan tidak seperti Gancit. Apalagi mall Grand Galaxy Park itu ada lho auditoriumnya atau jika tidak di auditorium, didepannya sangat luas dan tertutup untuk kegiatan kuliah disana.
Jawab :
Kenapa tidak di Gancit? Hanya di Gancit, Mall dengan masjid sangat luas dan sangat nyaman, dan dikelola dengan professional. Kenapa di masjid? Jawabannya sudah dijelaskan sebelumnya. Saya tidak pilih aula atau auditorium, karena sama aja kayak ruang kelas itu. Dan pasti bayar sewa pula.. Saya bisa aja ajukan uang operasional, tapi kalau bisa ada tempat gratis, nyaman, bisa memakmurkan masjid. Why not?
Artha Gading itu secara keseluruhan ambiensnya juga kurang mendukung. Penerangannya redup, brandnya tidak komplit. Di Gandaria City brand-brandnya cukup lengkap untuk dipelajari, mulai dari brand segmen bawah sampai atas. Dan Cuma di Gancit yang ada H&M. Sebenarnya ada brand lain yang Cuma ada di gancit, tapi pas ambil undian ternyata brand itu gak keambil oleh satupun kelompok kalian. Yasudah.
Edta : Kalau tidak salah Mba pernah mengatakan di Gancit ada teman Mba yang juga nantinya akan mengisi kuliah, kenapa beliau tidak kita undang ke kampus saja kan terlihat lebih efisien toh daripada kita kesana tidak difasilitasi apapun untuk hal transportasinya.
Jawab :
Saya lebih mending nyuruh mahasiswa ke gancit daripada nyuruh narasumber ke cemput. Karena salah satu pembelajarannya ada pada rihlah (perjalanan) itu sendiri. Itu ada di dalam Al-Qur’an. Ayat apa saya lupa :P
Dulu pun saya beberapa kali ikut dauroh (pelatihan) yang salah satu substansinya mendorong kita untuk mentafakkuri pembelajaran selama melakukan perjalanan.
Untuk transportasi, sekali lagi mahal atau murahnya itu tergantung kalian ya. Yang pasti saya tidak mungkin memfasilitasi, Karena sekali lagi, itu bukan tujuan saya. Tujuan saya adalah menceburkan kalian ke lapangan supaya kalian belajar lebih mandiri.
“Bilang aja pelit, mbak”, mungkin itu kata kalian. Lagi-lagi, kalau saya mau, saya bisa ajukan dana ke fakultas agar kalian bisa ‘difasilitasi’, lebih nyaman kan kalau difasilitasi? Tapi itu artinya kalian tidak belajar mengatasi masalah kalian sendiri, ya. Lalu buat apa bayar SPP per semester kalau kegiatan kuliah aja masih harus bayar sendiri lagi? Bisa saya jawab itu bagian dari "risk of life" gak ya?
Edta : Menurut saya, mba Nuri sepertinya jika menilai mahasiswa itu subjektif karena ketika mahasiswa yang selalu mendapat nilai bagus memberikan komentar atau bertanya pasti mba akan membenarkannya.
Jawab :
Terus terang saya tidak paham sama sekali dengan “ketika mahasiswa yang selalu mendapat nilai bagus memberikan komentar atau bertanya pasti mba akan membenarkannya”. Saya coba ingat-ingat ada peristiwa apa yang mengarah ke situ, tapi saya gagal menemukan peristiwa yang kamu maksud. Yang saya ingat, sejauh mahasiswa bisa memberikan argumentasi benar dan logika yang nyambung, baik dalam kelas maupun dalam kuis atau ujian, saya beri poin lebih.
Jika ada mahasiswa yang nilainya bagus saat kuis dan ujian, ya saya umumkan namanya di kelas supaya mereka paling tidak mendapat reward atas kerja kerasnya. Itu bentuk penghargaan saya ke mereka karena sudah mau bekerjasama dengan tantangan hidup.
Jujur, memang ada beberapa mahasiswa yang punya tempat di hati saya *ceilehh*. Tapi bukan karena nilai mereka paling bagus *yah ketahuan deh :D*, tapi karena saya lihat sikap kerjasama dan motivasi mereka sedari awal kuliah memang baik. Mereka-mereka ini menunjukkan kerendah-hatian terhadap ilmu, mereka menunjukkan sopan santun, bekerjasama dengan baik dengan aturan dan tantangan yang saya tetapkan. Gak ikut-ikutan arus dan punya sikap. Sebisa mungkin kalau mereka ada kesulitan, saya bisa support. Itupun bukan dalam bentuk saya nyuapin mereka, ya. Cuma saya kasih umpan-umpan aja.. hehe.
Akhir kata, saya beristighfar dan mohon maaf jika ada perilaku saya yang tidak sesuai dengan nilai agama, nilai kebenaran, nilai kebaikan. Mudah-mudahan penjelasan saya bermanfaat, dan antara kita (ciyeeeh) bisa tetap saling terbuka dan saling mengkoreksi. Terima kasih atas segala masukannya, dan good luck di UAS kalian nanti, juga di perjalanan hidup kalian setelah kuliah nanti :)
Wassalaamu'alaikum
Nuri Sadida






0 komentar:
Posting Komentar