Selasa, 13 Mei 2014

Stressku pada kuliah PIO

Saya Edta Dwi Utami,Amd.OT usia 24 tahun lulusan D3 Rehabilitasi Medik Universitas Indonesia. Maaf sebelumnya kepada Mba Nuri selaku dosen mata kuliah PIO karena saya ingin mengungkapkan beberapa hal mengenai proses belajar mengajar untuk mata kuliah PIO karena saya terngiang dengan kata – kata Mba Nuri bahwa blog bias digunakan untuk mengatakan apa saja jika kalian tidak bisa mengungkapkannya secara langsung, oleh karena itu salah satu tujuan saya ingin menuliskan ini. Saya harap Mba Nuri bisa menjelaskan semua yang ingin saya ungkapkan ini, diantaranya :

  1.  Saya merasa keberatan jika pengumuman nilai ujian diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah apalagi jika nilai itu dipajang di madding sehingga khalayak bisa membacanya karena itu dapat merusak motivasi belajar mahasiswa yang mendapat nilai rendah, kalaupun ingin diurutkan seperti demikian harusnya hanya dicantumkan NPM dan nilainya. Mba seharusnya bisa peka akan hal itu terlebih Mba Nuri sudah lulus psikologi pasti bisa membayangkan kondisi psikologis mereka.
  2. Saya merasa keberatan dengan tugas wawancara FAN Campus yang pertanyaannya sampai 2 lembar dengan waktu kunjungan yang singkat karena itu sangat tidak efisien, seharusnya bisa dibuat lebih simple.
3.       Saya sangat merasa keberatan dengan kunjungan ke Mall Gancit karena sangat tidak efisien dan boros waktu, tenaga dan uang. Mba Nuri seharusnya bisa dipikirkan lebih matang lagi dengan konsep kuliah yang seperti ini terlebih katanya kita kumpul di Masjid. Saya ingin mengatakan bukannya masjid itu tempat beribadah?tidak sopan jika tempat beribadah yang seharusnya untuk beribadah lalu dipakai untuk berkumpul apalagi jika nantinya untuk kegiatan perkuliahan juga (ga diusir satpam juga udah untung, Mba).
4.Kenapa harus di Gancit? Bukankah kampus kita dikelilingi mall-mall besar, seperti Kelapa Gading,MOI,Atrium Senen, terlebih Artha Gading yang sepi bisa digunakan untuk kegiatan perkuliahan tidak seperti Gancit. Apalagi mall Grand Galaxy Park itu ada lho auditoriumnya atau jika tidak di auditorium, didepannya sangat luas dan tertutup untuk kegiatan kuliah disana.
5.       Kalau tidak salah Mba pernah mengatakan di Gancit ada teman Mba yang juga nantinya akan mengisi kuliah, kenapa beliau tidak kita undang ke kampus saja kan terlihat lebih efisien toh daripada kita kesana tidak difasilitasi apapun untuk hal transportasinya.
6.       Menurut saya, mba Nuri sepertinya jika menilai mahasiswa itu subjektif karena ketika mahasiswa yang selalu mendapat nilai bagus memberikan komentar atau bertanya pasti mba akan membenarkannya.
Sepertinya itu saja yang membuat saya sangat stress, saya lega sudah bisa mengungkan hal ini karena tidak baik juga jika memiliki masalah dipendam. Oleh karena itu saya mengungkapkannya. Saya meminta maaf mba sebelumnya semoga ini juga bisa menjadi koreksi untuk mba Nuri supaya bisa lebih baik lagi dalam membagi ilmu kepada kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar