Jumat, 16 Mei 2014

The Gandaria City Story

Assalamualaikum readers, seperti janji di tulisan saya sebelumnya, saya akan menceritakan gimana rasanya kuliah di Mall.Sebelumnya, ini adalah ide dari ibu dosen yang ingin kami terjun langsung ke lapangan, khususnya tentang perilaku konsumen. Kami diajak ke salah satu Mall besar dimana banyak brand-brand terkenal di daerah Jakarta Selatan. Yup, Gandaria City. Selain brand-nya, fasilitas yang tersedia juga mendukung kami bisa tetap belajar dari materi yang diberikan yaitu mesjidnya yang guedeee banget untuk ukuran Mall. Selain perilaku konsumen, juga ada materi kepemimpinan yang di isi oleh kak Wina yang sharing tentang pengalamannya memimpin tim di produk susu super premium.

Awalnya, kumpul di mesjid dari jam 9 sampai jam 12 siang untuk pemberian materi, istilahnya "bekal" kami untuk berikutnya terjun ke TKP.Kesannya sih positif-positif aja. Soalnya kapan lagi coba ada tanggal merah untuk hal yang lebih bermanfaat? Dengan observasi dan wawancara kami diajak untuk melihat hal-hal detail dari sekedar jalan-jalan dan window shopping di mall. Detail disini maksudnya, melihat harga yang ditawarkan sesuai atau tidak dengan segmennya, kualitas produk yang dijelaskan, bagaimana cara sebuah toko mempromosikan produknya, keadaan SPG dan tokonya, sampai opini konsumen yang sudah beli dan tidak jadi beli. Coba kalo kami jalan-jalan doang di mall, mana pernah kepikiran hal kaya gitu kan? hahaha :DNah kali ini kelompok kami observasi di produk dari Hongkong yang sudah terkenal di Indonesia, berinisial G. 
Selama observasi, kami lihat produk-produk yang ditawarkan juga sesuai dengan slogannya, tokonya nyaman, apalagi ada musik-musik yang semangat membuat kami juga semangat memilih dan membeli barang itu. Cuma emang sih musiknya terlalu kencang, jadi interaksi kami dengan SPG kurang efektif. Kalau wawancara dengan konsumen adalah hal yang paling sulit, karena cukup sulit mencari konsumen yang bersedia diwawancarai. Namun dengan sedikit taktik dan persuasi, akhirnya kami mendapat alasan kenapa konsmen itu jadi beli dan tidak jadi beli. Kalau yang jadi beli alasannya karena sudah mengenal produk G yang kualitasnya terbaik sebelumnya, sedangkan yang tidak jadi beli alasannya hanya karena buru-buru ingin ke bandara.Sedikit review, hal yang kami lakuin tadi semuanya berdasarkan teori perilaku konsumen dan kepemimpinan.

Perilaku konsumen adalah ilmu yang mempelajari perilaku yang ditunjukkan oleh konsumen mulai dari mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, hingga membuang produk atau jasa yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Nah dalam segi marketing juga ada tahap-tahapnya, dari hanya sekedar menjual dengan harga yang murah, menggunakan sales, hingga mencari tahu kebutuhan konsumen itu apa dilihat dari kelas segmen dan karakteristik sosial ekonomi dan psikografik yang disebut sebagai marketing mix. Faktor-faktor marketing mix inilah yang kami observasi tadi.
Dalam perilaku konsumen juga ada tahap-tahap proses pembelian. Mulai dari bagaimana pembeli mengenali kebutuhannya, mempertimbangkan keputusan pembelian, memberi perhatian pada produk yang ingin dibeli, dan terakhir menentukan produk apa yang dibeli termasuk menilai resiko yang dari pembeliannya. Teori ini juga diterapkan pada keputusan konsumen jadi beli atau tidak, sesuai dengan wawancara yang kami lakukan konsumen tersebut berada di tahap mana.

Selanjutnya, Teori kepemimpinan. Khusus materi ini, dosen meminta kita untuk menganalisa teori kepemimpinan yang mana sih yang digunakan oleh kak Wina agar anggotanya berjalan dengan baik. Ada banyak sekali teori kepemimpinan. Namun khusus kak Wina, kelompok kami menyimpulkan, teori yang digunakannya adalah Hersey – Blanchard Situational Leadership Theory (SLT). Teori ini menjelaskan bahwa keberhasilan memimpin seorang pemimpin tergantung pada kemampuannya memilih gaya kepemimpinan yang tepat. Dilihat dari gaya kepemimpinan yang dipilih oleh kak Wina tergantung pada tingkat kedewasaan anggota, yaitu kesiapan (readiness) untuk menjalankan tugas. Jadi situasional, apa yang harus kak Wina lakukan apabila mendapat karyawan yang mempunyai kemapuan dan kemauan (willing and able), mempunyai kemampuan tapi tidak mempunyai kemauan (able and unwilling), tidak mempunyai kemampuan tapi mempunyai kemauan (unable and willing), serta tidak mempunyai kempuan dan kemauan (unable and unwilling). Based on her decision.
Ya cukup sekian cerita saya, terima kasih atas perhatiannya ya readers. Ini ceritaku, mana ceritamu? :)
Wassalamualaikum

_Andi Ulfa Fitriani

0 komentar:

Posting Komentar